Suasana penuh haru dan syukur menyelimuti Yayasan Pendidikan Islam Nurul Iman, Cunda, Lhokseumawe. Guru dan murid TK Nurul Iman merayakan kesepakatan gencatan senjata yang telah lama dinanti antara Gaza dan Israel, yang akan mulai berlaku Minggu, 19 Januari 2025. Kesepakatan ini menjadi secercah harapan bagi dunia, terutama bagi pendukung Palestina yang telah lama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai bentuk rasa syukur, para guru dan murid menggelar kegiatan edukatif dan doa bersama, disertai pembagian semangka kepada masyarakat sekitar. Semangka, yang dikenal sebagai simbol perdamaian dan harapan, menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Selama 15 bulan terakhir, genosida di Gaza telah menelan korban jiwa yang begitu besar. Menurut jurnal medis ternama The Lancet, jumlah korban jiwa sebenarnya diperkirakan mencapai ratusan ribu, jauh lebih tinggi dari angka resmi yang dirilis, yakni 47.000 jiwa. Tragisnya, sekitar 70 persen dari korban tersebut adalah anak-anak dan wanita.
Tak hanya itu, ribuan warga Gaza harus menjalani amputasi, sementara banyak lainnya menderita penyakit tanpa akses pengobatan. UNICEF bahkan menciptakan istilah baru, WCNSF (Wounded Child, No Surviving Family), untuk menggambarkan anak-anak yang terluka dan kehilangan seluruh keluarganya akibat konflik ini.
Pembina Yayasan Pendidikan Islam Nurul Iman, Noraliyatun Jannah, menjelaskan bahwa sejak awal konflik, pihak yayasan aktif memberikan edukasi kepada lebih dari 500 anak di TK/PAUD, TPQ, dan Balai Pengajian mengenai pentingnya memahami sejarah Palestina dan Masjid Al Aqsha.
“Sejak genosida dimulai, murid-murid kami telah turun tangan dengan berbagai cara, termasuk berdonasi dan menggalang dana di jalan. Dana tersebut telah kami serahkan melalui lembaga kemanusiaan yang diasuh oleh Abdillah Onim,” ujar Noraliyatun Jannah.
Kegiatan terkini, seperti pembagian semangka, dilakukan untuk terus mengingatkan keluarga besar yayasan akan pentingnya melanjutkan perjuangan mendukung Palestina. “Kami menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak-anak dengan cara yang sesuai usia mereka, seperti doa bersama, edukasi sederhana, dan kegiatan simbolis seperti ini,” tambahnya.
Melalui upaya ini, Nora berharap generasi muda tidak hanya memahami isu kemanusiaan secara mendalam, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam memperjuangkan keadilan.
“Kami berdoa semoga kesepakatan ini menjadi awal kebebasan Palestina dari penjajahan. Semangat kemanusiaan harus terus dirawat dan diajarkan, agar perjuangan ini tidak pernah redup,” tutup Noraliyatun Jannah.[]